SATUKABARBERITA.COM – Di balik tragedi runtuhnya Jembatan Tenggarong pada 26 November 2011 yang mengejutkan masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) tersimpan kisah dramatis penyelamatan diri dari seorang ASN Dinas Cipta Karya Tenggarong Irmia. Ia menjadi salah satu korban selamat yang berhasil keluar dari reruntuhan jembatan dalam kondisi hidup, meski mengalami luka cukup serius.
Sore itu, sekitar pukul 16.15 WITA, Irmia baru saja menyelesaikan tugas lapangannya mengawasi Proyek Rumah Sakit A.M. Parikesit.
Dengan sepeda motor, ia melewati Jembatan Tenggarong untuk kembali ke Tenggarong. Lalu lintas pada saat itu tersendat padat, membuat dirinya terjebak di tengah-tengah bentang utama jembatan.
Hanya beberapa menit setelah ia berhenti akibat kemacetan, kejadian tak terduga itu terjadi. Jembatan mendadak bergetar, diikuti suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Dalam hitungan detik, struktur baja raksasa itu patah dan ambruk ke Sungai Mahakam. Irmia, bersama puluhan pengendara lainnya, terhempas tanpa sempat menyelamatkan diri.
“Saya masih ingat jelas tubuh ini jatuh bersama rangka jembatan. Waktu itu saya masih sadar,” ujar Irmia.
Begitu tercebur ke sungai, ia langsung berusaha menenangkan diri meski situasinya sangat kacau.
Ia menyelam beberapa detik untuk melepaskan sepatu safety lapangan yang dipakainya. Sepatu itu terasa sangat berat dan menghambat gerak renangnya.
Setelah berhasil melepas sepatu, Irmia muncul ke permukaan dan mulai berenang, berusaha menjauhi puing-puing jembatan yang berserakan di air.
Arus Mahakam sore itu cukup deras, memperburuk kondisi para korban. Dalam keadaan lemah dan syok, ia terus memaksakan diri menuju arah Loa Lepu sekitar 10 meter dari titik jatuhnya.
Di tengah perjuangan itu, sebuah ces melintas dan melihatnya. Pengemudi perahu kecil tersebut langsung menolong dan menaikkan Irmia ke dalam perahu sebelum membawanya ke tepi Loa Lepu.
Setibanya di daratan, barulah kondisi tubuhnya terasa semakin menurun. Ia mendapati dirinya tidak bisa berjalan, sementara darah terus mengalir dari luka di kepalanya.
Warga sekitar yang melihat kondisinya segera memberikan pertolongan. Mereka membawanya ke mess kontraktor proyek yang berada di depan SD 007 Teluk Dalam, Tenggarong Seberang.
Di sana, Irmia sempat mendapatkan perawatan awal sebelum pihak kontraktor membawanya ke Rumah Sakit A.W. Syahranie (RS AWS) Samarinda.
Sesampainya di RS AWS, Irmia langsung mendapatkan tindakan medis. Ia menerima tujuh jahitan di bagian kepala akibat benturan yang dialaminya saat jatuh bersama jembatan.
Cedera pada kaki kirinya tergolong berat sehingga ia harus menggunakan tongkat untuk berjalan selama tiga bulan pascakejadian. “Setiap langkah terasa sakit, tapi saya bersyukur masih bisa hidup,” katanya.
Dari informasi yang diterimanya kemudian, Irmia tercatat sebagai korban selamat pertama yang tiba dan ditangani oleh RS AWS pada hari tragedi.
Tak lama setelahnya, rumah sakit mulai penuh oleh para korban lainnya yang berdatangan dari lokasi ambruknya jembatan. Banyak di antaranya mengalami luka berat, bahkan beberapa tidak terselamatkan.
Tragedi runtuhnya Jembatan Tenggarong menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Kutai Kartanegara.
Bagi Irmia, peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam. Ia mengaku masih teringat suasana detik-detik jembatan roboh setiap kali melintas di daerah tersebut.
Meski demikian, ia tetap berusaha bangkit dan kembali menjalankan tugasnya sebagai ASN setelah masa pemulihan.
Kisah penyelamatan diri Irmia menjadi gambaran betapa dahsyatnya peristiwa tersebut, sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah bencana besar, keberanian, ketabahan, dan pertolongan sesama dapat menjadi penyelamat nyawa.
Hingga kini, cerita para penyintas seperti Irmia terus menjadi bagian penting dari memori kolektif masyarakat Kukar tentang tragedi yang mengguncang seluruh daerah itu. (*)








